Suara Islam

Warga Ponorogo Heboh Isu Kiamat, Ini Kata MUI

Written by hidayah news

PONOROGO – {Hidayahnews.com} – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim) menegaskan, isu kiamat yang membuat 16 kepala keluarga atau 52 jiwa penduduk Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo menjual rumah dan hartanya guna eksodus ke Kabupaten Malang adalah keliru. Sebab sesuai ajaran Islam, tak ada seorang pun tahu terjadinya hari akhir tersebut. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri, tidak memberikan jawaban pasti kecuali hanya tanda-tanda semata.

“Kalau ada yang mengatakan akan terjadi kiamat pada hari, bulan, tahun, itu jelas tidak benar. Itulah rahasia Allah SWT,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Ponorogo, KH Sayuti Farid, yang dikonfirmasi, Jumat (15/3/2019).

KH Sayuti Farid belum dapat memastikan apakah ajaran Toriqoh Akmaliyah Assholihiyah yang dianut warga di Ponorogo bertentangan dengan Islam.

Diketahui, sejumlah warga Ponorogo termakan isu kiamat oleh Karimun sepulang nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Miflahul Falahil Mubtadi’in di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Sesuai permintaan Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni, maka Pemprov Jatim bersama-sama MUI Jatim dan Polda Jatim diharapkan segera turun tangan meluruskan. Pasalnya, pemahaman yang diduga keliru itu harus dipastikan, apakah sebagai doktrin atau sekedar penipuan atau bahkan keliru menerjemahkan. “52 orang penduduk Ponorogo itu sudah hijrah secara fisik. Jika kepindahan mereka karena doktrin, MUI Ponorogo memastikan bahwa pemahaman tersebut keliru. Jika ada yang meramalkan kedatangan kiamat, maka kabar itu saya pastikan hoax,” ujar KH Sayuti Farid.

MUI Ponorogo mengimbau kepada seluruh warga Bumi Reog untuk tetap tenang. “Jangan ikut terpengaruh dengan doktrin aneh tersebut. Apalagi harus mengorbankan harta benda untuk alasan hijrah,” kata KH Sayuti Farid.

Kiai Sayuti menduga ada kesalahpahaman jemaah dalam memahami apa yang disampaikan tokoh toriqoh Akmaliyah Assholihiyah di Ponpes Miflahul Falahil Mubtadi’in, Malang. Akibatnya mereka bertindak menyimpang dan menimbulkan keresahan.

Sayuti Farid juga mengimbau warga yang sudah berada di Malang untuk kembali ke Ponorogo agar kehidupan mereka kembali tenang. “Kita sudah mengambil langkah antisipasi agar tidak meluas,” tandas Sayuti Farid menyikapi fenomena nyleneh tersebut.

Sebelumnya Katimun, warga Desa Watu Bonang mengajarkan Toriqoh Akmaliyah Asholihiyah yang baru diperolehnya dari Kasembon, Kabupaten Malang. Rumah Katimun sendiri dijadikan pusat kegiatan pengajian sekaligus kantor Cabang Ponorogo. Pengikutnya ratusan orang. Belakangan, Katimun menyampaikan ajaran kiamat sudah dekat. Tak berselang lama, Katimun dan 52 orang mengungsi ke Malang. Mereka menjual rumah dan seluruh harta bendanya untuk keperluan hijrah tersebut.

Ponpes Miflahul Falahil Mubtadi’in, di Kasembon, Malang, diibaratkan sebagai ‘perahu besar Nabi Nuh’ yang terhindar dari musibah kiamat. “Jadi mereka ini pindah karena percaya kiainya, bahwa kalau ikut kiainya dijamin terhindar dari kiamat,” kata Bupati Pnorogo, Ipong Muchlisoni.

Rumah, tanah, kendaraan dan ternak dijual untuk bekal hidup di Malang, dan sebagian hasil penjualan itu disebut-sebut untuk disetor kepada kiainya sebagai amal.

Pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin di Kabupaten Malang, Muhammad Romli, melalui jumpa pers di Mapolres Kota Batu, Kamis (14/3/2019) sudah membantah bahwa ponpesnya menyebarkan kabar bahwa kiamat sudah dekat.

About the author

hidayah news

Leave a Comment