Ekonomi Metropolitan

Jakarta Perlu Suatu ‘Hinterland’ Seperti Meikarta Dan Kota Baru Lain

Written by hidayah news

Bekasi – {hidayahnews.com} – Menurut Pakar perencanaan wilayah dan kota dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Ina Helena Agustina, belum lama ini “Kota penyangga itu kita menyebutnya hinterland. Kalau boleh dianalogikan, itu seperti pembantu rumah tangga, sangat dibutuhkan untuk kestabilan sebuah rumah tangga,”

Beban Kota Jakarta dinilai sudah sangat berat. Selain sebagai ibu kota negara, Jakarta juga dijadikan pusat kegiatan ekonomi yang membuat jutaan orang datang untuk mengais rezeki. Akibatnya muncul beragam persoalan perkotaan, utamanya masalah permukiman.

Maka guna mengurangi beban Jakarta, dibutuhkan daerah-daerah penyangga yang berfungsi sebagai penyeimbang. Ini penting agar Jakarta tidak terlalu padat sehingga meminimalisir persoalan-persoalan turunan lainnya.

Menurutnya kebutuhan permukiman untuk kota sebesar Jakarta mau tidak mau memang harus didukung oleh hinterland. Karena itu, lalu muncul kota-kota baru di daerah penyangga yang mengusung konsep new town. Wilayah permukiman ini biasanya memiliki fasilitas lengkap. Mulai dari tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaan, lembaga pendidikan, hingga rumah sakit.

Dengan konsep ini semestinya new town dapat mengurangi beban di kota inti karena orang tinggal, bekerja, dan menjalankan aktivitas di satu kawasan tersebut. Namun di Indonesia, kata Helena, tidak ada yang murni berperan seperti new town ini. Orang-orang yang tinggal di hinterland umumnya tetap bekerja di kota inti. Begitu pun yang tampak di Jakarta dan daerah-daerah penyangganya.

“Karena itu, si hinterland (daerah penyangga) ini harus dikoneksikan dengan si kota inti (Jakarta) dengan transportasi yang baik, nyaman, dan aman. Bukan sekadar jaringan infrastruktur jalan, tapi moda transportasi publiknya harus dirancang seperti itu,” terang dia

Hal inilah yang menjadi dasar pembangunan Meikarta, kawasan permukiman baru di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Meikarta yang berada di hinterland terkoneksi langsung dengan Jakarta sebagai kota inti. Ada beberapa infrastruktur yang mendukung transportasi di wilayah Meikarta.

Antara lain light rail transit (LRT) koridor Cawang-Bekasi Timur-Cikarang, jalan tol layang Jakarta-Cikampek, dan kereta cepat Jakarta-Bandung. Selain LRT, transportasi ke Cikarang akan semakin lancar dengan dibangunnya mass rapid transit (MRT) dari Bekasi hingga Cikarang. “Dia (Meikarta) sangat mem-backup Jakarta dan dekat dengan kawasan industry,” paparnya.

Keberadaan fasilitas permukiman di kota penyangga juga harus lengkap. Di sebuah kawasan permukiman harus ada sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan pelayanan publik lain karena para penghuninya tidak mungkin terus-menerus mengaksesnya ke kota inti.

Pun demikian dengan Meikarta. Selain hunian, di kawasan permukiman seluas 500 hektare tersebut juga dibangun sejumlah fasilitas. Di antaranya, rumah sakit, lembaga pendidikan dari SD hingga universitas, central park, pusat perbelanjaan, hotel bintang lima, perpustakaan, gedung pertunjukan, serta pusat kesenian dan hiburan. Dengan banyaknya fasilitas yang dimiliki, warga Meikarta tidak perlu jauh-jauh keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keperluan lain.

Terpisah, pengamat properti Anton Sitorus meminta pembangunan proyek Meikarta hendaknya tidak dilihat hanya pada masalah hukum yang kini membelitnya. Bagi Anton, ada banyak sisi positif dari proyek tersebut.

Paling tidak, dari satu segi Meikarta menjadi salah satu solusi dari kebutuhan pemerintah menghadapi kekurangan suplai perumahan untuk masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. “Proyek semacam ini (Meikarta) kan bukan proyek menara gading. Bukan hanya untuk kalangan tertentu, kalangan atas, tapi juga buat kalangan bawah,” katanya. H-KB/ds

About the author

hidayah news

Leave a Comment